Hardiknas: Mahasiswa Belajar, Berkarya, dan Mengabdi untuk Negeri

Nunukan – Setiap 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Bukan sekadar seremonial, Hardiknas adalah pengingat bahwa pendidikan adalah jalan utama memajukan bangsa. Dan di titik inilah mahasiswa berdiri: sebagai generasi yang dituntut untuk belajar, berkarya, dan mengabdi untuk negeri. Ki Hajar Dewantara pernah berkata, “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Hari ini, semangat itu harus hidup di kampus. Bukan hanya di papan tulis, tapi di lapangan, di desa, di wilayah perbatasan.

Belajar: Bukan Sekadar Mengejar Nilai Tantangan pertama mahasiswa adalah mengubah cara belajar. Di era disrupsi, ijazah saja tidak cukup. Mahasiswa harus jadi pembelajar sepanjang hayat. Merdeka Belajar bukan berarti bebas tanpa arah, tapi bebas memilih jalur yang relevan dengan kebutuhan zaman. Mahasiswa vokasi, misalnya, dituntut menguasai praktik nyata. Teori di kelas harus nyambung dengan alat di bengkel, data di lapangan, dan kebutuhan industri. Tantangannya: melawan rasa nyaman. Belajar itu tidak selalu enak, tapi itulah harga dari kemerdekaan berpikir.

Berkarya: Dari Tugas Kuliah ke Solusi Nyata

Banyak mahasiswa masih terjebak: karya hanya untuk dosen, bukan untuk masyarakat. Padahal, kampus adalah tempat lahirnya inovasi. Di Politeknik Negeri Nunukan, mahasiswa Prodi Teknik Pengolahan Hasil Perikanan sudah menciptakan produk abon ikan yang dipasarkan. Mahasiswa Administrasi Bisnis membantu UMKM melek pembukuan digital. Tantangannya adalah mentalitas. Karya harus punya nilai guna. Mahasiswa harus berani keluar dari zona nyaman, berkolaborasi dengan masyarakat, dan menjawab persoalan riil. Hardiknas mengingatkan: pendidikan tanpa karya hanya jadi retorika.

Mengabdi : Mahasiswa di Garda Terdepan

Hardiknas tahun ini mengusung semangat “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Artinya, mahasiswa tidak boleh menunggu selesai kuliah baru mengabdi. Pengabdian dimulai sejak sekarang. Di wilayah perbatasan seperti Nunukan, mahasiswa jadi ujung tombak. Mereka mengajar anak-anak di desa, mendampingi nelayan beralih ke teknologi, membantu pemerintah desa mengelola data. Di sinilah peran mahasiswa sebagai agent of change diuji. Tantangan terbesarnya: rasa apatis. Banyak mahasiswa merasa “bukan urusanku”. Padahal, kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Mengabdi itu bukan soal besar-kecilnya aksi, tapi soal keberanian untuk peduli.

Hardiknas: Saatnya Mahasiswa Bergerak

Pendidikan nasional tidak akan maju kalau mahasiswa hanya jadi penonton. Kita butuh mahasiswa yang berani: berani belajar keras, berani berkarya nyata, berani mengabdi tanpa pamrih. Di Hardiknas 2026 ini, mari jadikan kampus sebagai tempat lahirnya solusi, bukan sekadar penghasil sarjana. Mari buktikan bahwa mahasiswa Indonesia mampu belajar dengan giat, berkarya dengan bangga, dan mengabdi dengan ikhlas untuk negeri.

Scroll to Top